Selasa, 19 Juli 2016

Rangkuman PMRI

PMRI
Nama : Anis Maghfiroh
Dosen : Lestariningsih, S. Pd. , M. Pd. 
STKIP PGRI SIDOARJO

A. Pengertian
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) atau Realistic Mathematics Education (RME) adalah teori pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang riil atau pernah dialami siswa, menekankan keterampilan proses, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (student inventing) sebagai kebalikan dari (teacher telling) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok dalam kehidupan mereka sehari-hari.
B. Sejarah
Realistic mathematics education, yang diterjemahkan sebagai pendidikan matematika realistik (PMR), yaitu sebuah pendekatan belajar matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute, Utrecht University di Negeri Belanda. 1990) bahwa matematika adalah kegiatan manusia.
C. Karakteristik
1. Menggunakan model-model (matematisasi)
2. Menggunakan produksi dan konstruksi (kontribusi siswa )
3. Menggunakan interaktif
4. Menggunakan keterkaitan (intertwinment)
D. Prinsip
1. Guided Reinvention and Progressive Mathematizing
2. Didactical Phenomenology
3. Self Developed Models
E. Kelebihan
1.Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa tentang keterkaitan matematika dengan kehidupan sehari-hari dan kegunaan pada umumnya bagi manusia.
2. Pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.
3. Pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara yang satu dengan orang yang lain.
F. Kelemahan
1.Tidak mudah untuk merubah pandangan yang mendasar tentang berbagai hal, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal atau masalah kontekstual, sedang perubahan itu merupakan syarat untuk dapat diterapkannya PMR.
2.Pencarian soal-soal kontekstual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut dalam Pendidikan matematika realistik tidak selalu mudah untuk setiap pokok bahasan matematika yang dipelajari siswa, terlebih-lebih karena soal-soal tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermacam-macam cara.
3.Tidak mudah bagi guru untuk mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara dalam menyelesaikan soal atau memecahkan masalah.
4.Tidak mudah bagi guru untuk memberi bantuan kepada siswa agar dapat melakukan penemuan kembali konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika yang dipelajari.
G. Langkah - langkah
1.Mengkondisikan siswa untuk belajar
2.Mengajukan masalah kontekstual
3.Membimbing siswa untuk menyelesaikan masalah kontekstual
4.Meminta siswa menyajikan penyelesaian masalah
5.Mengajak siswa membandingkan dan mendiskusikan penyelesaian masalah
6.Mengajak siswa bernegosiasi

Rangkuman Pendekatan Open Ended

Pendekatan Open Ended
Nama : Anis Maghfiroh
Dosen : Lestariningsih, S. Pd. , M. Pd. 

A. Pengertian
Open ended adalah suatu model pembelajaran yang diformulasikan memiliki multi jawaban (mempunyai beberapa penyelesaian) atau sering disebut juga problem tak lengkap atau problem terbuka.
Model ini dimulai dengan memberikan problem terbuka pada siswa dan selanjutnya kegiatan pembelajaran harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan mungkin juga jawaban (yang benar).

B. Kelebihan
1. Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan ide.
2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematik secara komprehensif.
3. Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
4. Siswa secara instrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
5. Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.

C. Kelemahan Open Ended
1. Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan yang mudah.
2. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespons permasalahan yang diberikan.
3. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
4. Kemungkinan ada sebagian siswa merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.

D. Langkah - langkah
Kegiatan Awal
1.    Guru melakukan tanya jawab untuk mengecek pengetahuan prasyarat dan keterampilan yang dimiliki siswa.
2.    Guru menginformasikan kepada siswa materi yang akan mereka pelajari dan kegunaan materi tersebut.

Kegiatan Inti
1.    Memberi Masalah
2.    Mengeksplorasi Masalah
3.    Merekam Respon Siswa
4.    Pembahasan Respon Siswa (diskusi kelas)
5.    Meringkas apa yang dipelajari

Kegiatan Akhir
1.    Guru memberikan soal-soal untuk dikerjakan dirumah.
2.    Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

E. Sejarah
Pendekatan ini berkembang pesat sampai di Amerika dan Eropa yang selanjutnya dikenal dengan istilah open-ended probleng solving. Di Eropa, terutama di Negara-negara seperti Belanda pendekatan pembelajaran ini mendapat perhatian luas seiring dengan terjadinya tuntutan pergeseran paradigma dalam pendidikan matematika di sana. Di klaim bahwa pembelajaran matematika merupakan “human activities”, baik mental atau fisik berdasarkan “real life” dengan mengambil landasanKonstrutivisme RadikalModern (berdasarkan biologi Kognitivisme dan Neurophisiologi) oleh Maturana dan varela (1984) bahwa fenomena-fenomena alam itu tidak dapat di reduksi secara penuh menjadi klusa-klausa deterministic, dengan struktur dan pola yang unik, tunggal dan dapat di prediksi secara mudah. Sebaliknya real life, adalah kompleks dengan struktur dan pola yang sering tak jelas, tak selalu teramalkan dengan mudah, multidimensi, dan memungkinkan adanya banyak penafsiran dan sinkuler.Pengetahuan manusia tentang alam hanyalah hipotesa-hipotesa konstruksi hasil pengamatan terbatas, yang tentu saja dapat salah (fallible).Mengambil  pandangan ini dalam pembelajaran matematika, berarti memberi kesempatan pada peserta diklat untuk belajar melalui aktivitas-aktivitas real life dengan menyajikan fenomena alam “seterbuka mungkin” pada peserta diklat. Bentuk penyajian fenomena rea dengan “terbuka” ini dapat dilakukan  melalui pembelajaran yang berorientasi pada masalah/ soal/ tugas terbuka.

F. Prinsip
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan open-ended mengasumsikan tiga prinsip, yakni sebagai berikut :
1. Related to the autonomy of student’ activities. If requires that we should appreciate the value of student’ activities for fear of being just non-interfering.
2. Related to evolutionary and integral nature of mathematical knowledge. Content mathematics is theoretical and systematic. Therefore, the more essential certain knowledge is, the more comprehensively it derives analogical, special, and general knowledge.
3. Related to teachers’ expedient decision-making in class. In mathematics class, teachers often encounter students’ unexpected ideas. In this bout, teachers have an important role to give the ideas full play, and to take into account that other students can also understand real amount of the unexpected ideas.

G. Karakteristik
Nohda merumuskan karakteristik yang mendasari pendekatan open-ended adalah sifat terbuka atau keterbukaan.

Rangkuman Pendekatan Saintifik

Pendekatan Saintifik
Nama : Anis Maghfiroh
Dosen : Lestariningsih, S. Pd.,M. Pd
STKIP PGRI SIDOARJO

A. Langkah - langkah
1. Mengamati
2. Menanya
3. Mengumpulkan Informasi/Eksperimen
4. Mengasosiasikan/Mengolah Informasi
5. Mengkomunikasikan.

B. Pengertian
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar  peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.

C. Karakteristik
Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa.
2. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip.
3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
4. Dapat mengembangkan karakter siswa.

D. Prinsip
Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Belajar siswa aktif, dalam hal ini termasuk inquiry-based learning atau belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar berkelompok,    dan belajar berpusat pada siswa.
2. Assessment berarti  pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar.
3. Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah      mengembangkan pendekatan keragaman.  Pendekatan ini membawa   konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta konteks

E. Kelebihan
1. Membuat guru memiliki keterampilan membuat RPP, dan menerapkan pendekatan scientific secara benar.
2. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.

F. Kekurangan Pendekatan Scientific
1. Konsep pendekatan scientific masih belum dipahami, apalagi tentang metode pembelajaran yang kurang aplikatif disampaikan.
2. Membutuhkan waktu pembelajaran yang lebih lama untuk mewujudkan semua tahapan-tahapan yang ada pada pendekatan scientific.

Rabu, 27 April 2016

summary of problem posing

PROBLEM POSING
Nama : Anis Maghfiroh
N.I.M. : 1431013
Mata Kuliah : Pembelajaran Inovatif II
Dosen Pengampu : Lestariningrum, S.Pd.,M.Pd.
Kampus : STKIP PGRI SIDOARJO


A.    PENGERTIAN PROBLEM POSING
Problem posing adalah istilah dalam bahasa inggris yaitu dari kata “Problem” artinya masalah, soal, atau persoalan dan kata “to pose” yang artinya mengajukan. Problem posing bisa diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah. Problem Posing adalah salah satu model pembelajaran yang sudah lama dikembangkan, Huda (2013: 276) menyatakan bahwa problem posing merupakan istilah yang pertama kali dikembangkan oleh ahli pendidikan asal Brazil, Paulo Freire.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model problem posing adalah model pembelajaran yang mewajibkan siswa belajar melalui pengajuan soal dan pengerjaan soal secara mandiri tanpa bantuan guru.
B.     LANGKAH-LANGKAH PROBLEM POSING
Selanjutnya, Saminanto (Maulina, 2013: 20-21) menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran problem posing adalah :
1.      Guru menjelaskan materi pelajaran menggunakan alat peraga,
2.      Guru memberikan latihan soal,
3.      Siswa diminta mengajukan soal,
4.      Secara acak, guru meminta siswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas, dan
5.      Guru memberi tugas rumah secara individu.
            Langkah-langkah penerapan model problem posing yang dikemukakan oleh Amri dan Saminanto, sejalan dengan pendapat Thobroni dan Mustofa (2012: 351) yang menyatakah bahwa :
1.      Guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa menggunakan alat peraga untuk memfasilitasi siswa dalam mengajukan pertanyaan,
2.      Siswa diminta untuk mengajukan pertanyaan secara berkelompok,
3.      Siswa saling menukarkan soal yang telah diajukan,
4.       Kemudian menjawab soal-soal tersebut dengan berkelompok.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, bahwa langkah-langkah problem posing adalah siswa mengajukan dan menjawab soal dengan berkelompok berdasarkan penjelasan guru ataupun pengalaman siswa itu sendiri.
Maka, langkah-langkah yang digunakan adalah :
1)      Menjelaskan materi pelajaran dengan media yang telah disediakan,
2)      Membagi siswa menjadi kelompok secara heterogen,
3)      Secara berkelompok, siswa mengajukan pertanyaan pada lembar soal,
4)      Menukarkan lembar soal pada kelompok lainnya,
5)      Menjawab soal pada lembar jawab, dan
6)      Mempresentasikan lembar soal dan lembar jawab di depan kelas.
C. CIRI-CIRI PROBLEM POSING
Thobroni dan Mustofa (2012: 350) menyatakan bahwa pembelajaran problem posing memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.    Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru
2.    Guru menjadi rekan murid yang melibatkan diri dan menstimulasi daya pemikiran kritis murid-muridnya serta mereka saling memanusiakan.
3.    Manusia dapat mengembangkan kemampuannya untuk mengerti secara kritis dirinya dan dunia tempat ia berada.
4.   Pembelajaran problem posing senantiasa membuka rahasia realita yang menantang manusia kemudian menuntut suatu tanggapan terhadap tantangan tersebut.
Berdasarkan ciri-ciri yang telah disebutkan di atas, bahwa model problem posing ini bersifat fleksibel, mengesankan, menganggap murid adalah subjek belajar, membuat anak untuk mengembangkan potensinya sebagai orang yang memiliki potensi rasa ingin tahu dan berusaha keras dalam memahami lingkungannya.
D.    TIPE MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING
Tiga tipe model pembelajaran problem posing yang dapat dipilih guru (Usmanto,2007). Pemilihan tipe ini dapat disesuaikan dengan tingkat kecerdasan para siswa( peserta didik).
1.      Problem posing tipe pre-solution posing
            Siswa membuat pertanyaan dan jawaban berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru. Jadi, yang diketahui pada soal itu dibuat guru, sedangkan siswa membuat pertanyaan dan jawabannya sendiri.
2.      Problem posing tipe within solution posing
            Siswa memecahkan pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.
3.      Problem posing tipe post solution posing
            Siswa membuat soal yang sejenis dan menantang seperti yang dicontohkan oleh guru.  Jika guru dan siswa siap maka siswa dapat diminta untuk mengajukan soal yang menantang dan variatif pada pokok bahasan yang diterangkan guru. Siswa harus bisa menemukan jawabannya. Tetapi ingat, jika siswa gagal menemukan jawabannya maka guru merupakan narasumberutamabagisiswanya. Guru harus benar-benar menguasai materi.
Penerapan ketiga macam model pembelajaran problem possing menurut Amin Suyitno dalam Sari (2007), menjelaskan bahwa  problem posing diaplikasikan dalam tigabentuk aktifitas kognitif matematika sebagai berikut.
a. Pre solution posing
Pre solution posing yaitu siswa membuat pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru. Contoh penerapan dalam soal, jika guru memberikan pernyataan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit”
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?
b. Within solution posing
Within solution posing yaitu siswa memecah pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.
Contoh penerapan dalam soal, jika guru memberikan pernyataan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit. Berapakahbanyaknyaanak yang menyukai biskuit dan cokelat?”
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
a) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
b) Berapa banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
c. Post solution posing
Post solution posing yaitu siswa membuat soal yang sejenis, seperti yang dibuat oleh guru. Jika guru memberikan pertanyaan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?”
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
Dari 42 siswa, 45 siswa menyukai atletik, 38 siswa menyukai senam, dan hanya 8 siswa yang tidak menyukai atletik dan senam.
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai atletik?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai senam?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai atletik dan senam?
Adapun kondisi dalam pembentukan soal, menurut Srini M. Iskandar dalam Syarifulfahmi dibagi menjadi tiga golongan yakni:
1.  Kondisi bebas, yakni jika kondisi tersebut memberi kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk membentuk soal, karena siswa tidak diberi kondisi yang harus dipenuhi.
2.    Kondisi semi terstruktur, yakni jika siswa diberi suatu kondisi dengan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya.
3.    Kondisi terstruktur, adalah jika kondisi yang digunakan berupa soal atau penyelesaian soal.

E.PRINSIP-PRINSIP
Guru matematika dalam rangka mengembangkan model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) dalam pembelajaran matematika, dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar berikut :
1.   Pengajuan soal harus berhubungan dengan apa yang dimunculkan dari aktivitas siswa di dalam kelas
2.   Pengajuan soal harus berhubungan dengan proses pemecahan masalah siswa.
3.   Pengajuan soal dapat dihasilkan dari permasalahan yang ada dalam buku teks, dengan memodifikasikan dan membentuk ulang karakteristik bahasa dan tugas.
F.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PROBLEM POSING
Setiap model pembelajaran pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Thobroni dan Mustofa (2012: 349) mengemukakan bahwa kelebihan metode problem posing adalah :
1.      Mendidik murid berfikir kritis
2.      Siswa aktif dalam pembelajaran
3.      Belajar menganalisis suatu masalah
4.      Mendidik anak percaya pada diri sendiri.
            Menurut Norman dan Bakar (2011) menguraikan bahwa kelebihan model problem posing adalah:
1.     Kemampuan memecahkan masalah/ mampu mencari berbagai jalan dari suatu kesulitan yang dihadapi
2.     Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman siswa / terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan.
3.     Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah
4.    Meningkatkan kemampuan mengajukan soal dan sikap yang positif terhadap materi pembelajaran.
            Sejalan kedua pendapat diatas bahwa kelebihan model pembelajaran problem posing yaitu :
1.     Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran
2.     Minat yang positif terhadap materi pembelajaran
3.     Membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada sehingga meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah
4.     Memunculkan ide yang kreatif dalam mengajukan soal
5.     Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah.

            Kekurangan model problem posing yaitu :
1.      Pembelajaran model problem posing membutuhkan waktu yang lama
2.      Agar perlaksanaan kegiatan dalam membuat soal dapat dilakukan dengan baik perlu ditunjang oleh buku-buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.



H. SEJARAH PROBLEM POSSING
Menurut Suyitno Amin, 2004 dalam Sari, Problem posing mulai dikembangkan pada tahun 1997 oleh Lynn D. English dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Kemudian model ini dikembangkan pada mata pelajaran yang lain. Model pembelajaran problem posing mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2000.
I. TUJUAN DAN MANFAAT PROBLEM POSSING
Menurut pendapat beberapa ahli, yang dikutip oleh Tatag (M. Thobroni, 2011: 349) mengatakan bahwa, metode pengajuan soal (problem posing) dapat:
1)      Membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap pelajaran sebab ide-ide siswa dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah.
2)      Membentuk siswa bersikap kritis dan kreatif.
3)      Mempromosikansemangatinquiridanmembentukpikiran yang berkembang dan fleksibel.
4)      Mendorong siswa untuk lebih bertanggungjawabdalambelajarnya.
5)      Mempertinggi kemampuan pemecahan masalah sebab pengajuan soal memberi penguatan-penguatan dan memperkaya konsep-konsep dasar.
6)      Menghilangkan kesan keseraman dan kekunoan dalam belajar.
7)      Memudahkan siswa dalam mengingat materi pelajaran.
8)      Memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran.
9)      Membantu memusatkan perhatian pada pelajaran.
10)    Mendorong siswa lebih banyakmembacamateripelajaran.

J. Hal-hal yang PerluDiperhatikan dalam Pendekatan Pembelajaran Problem Posing

Silver dalam Kadir (2006:8) menyatakan bahwa istilah problem posing umumnya digunakan pada tiga bentuk kegiatan yang bersifat metematis, yaitu:
1. Sebelum pengajuan solusi, yaitu satu pengembangan masalah awal dari situasi stimulus yang diberikan
2.  Di dalam pengajuan solusi, yaitu merumuskan kembali masalah agar menjadi lebih mudah untuk diselesaikan
3.  Setelah pengajuan solusi, yaitu memodifikasi tujuan atau kondisi dari masalah yang sudah diselesaikan untuk merumuskan masalah baru
Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Guru
1.  Guru hendaknya membiasakan merumuskan soal baru atau memperluas soal dari soal-soal yang ada di buku pegangan
2. Guru hendaknya menyediakan beberapa situasi yang berupa informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau lainnya, kemudian guru melatih siswa merumuskan soal dengan situasi yang ada.
3. Guru dapat menggunakan soal terbuka dalam tes.
4. Guru memberikan contoh perumusan soal dengan beberapa taraf kesukaran, baik isi maupun bahasanya.
5. Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pembelajaran yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai isi buku teks, yang dilaksanakan dengan cara menggilir siswa berperan sebagai guru. (Sutiarso, 2000).
Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Siswa
1. Siswa dimotivasi untuk mengungkapkan pertanyaan sebanyak-banyaknya terhadap situasi yang diberikan.
2. Siswa dibiasakan mengubah soal-soal yang ada menjadi soal yang baru sebelum mereka menyelesaikannya.
3. Siswa dibiasakan membuat soal-soal serupa setelah menyelesaikan soal tersebut.
4. Siswa harus diberi kesempatan untuk menyelesaikan soal-soal yang dirumuskan oleh temannya sendiri.
5. Siswa dimotivasi untuk menyelesaikan soal-soal non rutin. (Sutiarso, 2000)